SENTUHAN UNTUK DOSEN

SENTUHAN UNTUK DOSEN

Oleh Luthfi, Bachtiar

Manusia mana yang tidak ingin memiliki sandangan rapi, dianggap intelek orang lain dan berpenghasilan rutin tiap bulan. Tentu saja, dia adalah guru atau pengajar peserta didik. Mendengar nama satu kata itu mencerminkan tanda yang sangat begitu positif, penuh kewibawaan. Panorama tersebut sekarang bukan hal yang sulit untuk dapat diwujudkan oleh siapapun. Apalagi, era modern seakan tertinggal dengan era yang lebih modern.

Tapi apa yang terjadi, jika titel yang telah disemaatkan oleh umum itu bertolak belakang dengan fakta lapangan. Kesenjangan antara teori dan fakta inilah yang menjadi buah bibir untuk siapa saja, dan patut untuk dipertanyakan.

Komposisi Ilmu Pengetahuan

Kepemilikan pengaetahuan khusus bagi guru adalah mutlak. Seorang guru Bahasa Indonesia paling tidak harus mampu membuat satu paragraf utuh yang sistematis. Seorang guru matematika paling tidak harus mampu memberikan stimulus-stimulus efektif kepada peserta didiknya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Seorang guru Agama paling tidak harus mampu menjadi panutan bagi peserta didiknya dalam kesehariannya, di dalam maupun luar sekolah. Begitu juga dengan guru lain bidang mata pelajaran lainya.

Kata “paling tidak” di atas, akan hanya menjadi kata “buta” jika guru tersebut hampa akan hal-hal yang bersifat umum. Hal umum sangatlah diperlukan, terutama pada waktu kegiatan belajar mengajar di sekolah. Akan seperti apa ide yang akan diterapkan dalam memisalkan masalah,  akan menceritakan seperti apa sang guru dalam menerangkan materi yang diajarkan, akan menerapkan sistem apa sang guru dalam menata anak didiknya. Disinilah kemanfaatan pengetahuan umum bagi guru.

Guru, begitu monoton dan pasif jika hanya mengandalkan ilmu khusus yang dimilikinya. Belum lagi jika peserta didik mengajukan pertanyaan dengan mengkaitkan hal lain yang mempunyai sinkronik dengan mata pelajaran yang diampu. Tapi akan lebih beresiko jika sang guru lebih mengutamakan pengetahuan umum ketimbang pengtahuan khusus. Dan hanya bercerita dan cerita sehingga tidak mengena ke benang merah pengajaran.

Seorang penyair akan mati jika hanya menulis puisi. Begitu juga dengan guru, akan mati jika menjadi seorang guru. Meskipun semua akan mati. Akan sangat mengangkat derajat seorang guru jika guru tersebut memiliki kecakapan lain sepert sebagai penulis, seniman, pengusaha, pegiat atau aktifis dan lain sebagainya.

Kompetensi

Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 menegaskan, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih menilai, mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuan dengan tugas mentranformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian dan masyarakat. (Subiyanto, Drs, M.Pd : Pengantar pendidikan, memahami seluk beluk pendidikan).

Dari paragaf di atas, mengemban profesi sebagai guru atau pengajar terlihat berat dan bukan title yang boleh dianggap remeh. Oleh karena itu, guru harus memiliki kompetensi-kompetensi yang mumpuni. A. Samana mengemukakan, ada empat kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap guru. Pertama, Kompetensi Pedagogik/s. Mengaenai peserta didik, dunia pendidikan dan pembelajaran. Kedua, Kompetensi Personal. Meliputi sikap, emosi, kepribadian dan untelegensi guru itu sendiri. Ketiga, Kompetensi Sosial. Meliputi nalar guru terhadap lingkungan sekitar, baik masyarakat maupun alam sekitar. Keempat, Kompetensi Profesional. Meliputi hal-hal yang bersifat umum, terutama mengenai ranah pendidikan.

Keempat kompetensi di atas, bagaikan meja yang didesain dengan empat kaki. Dan seperti yang sudah diketahui, akan seperti apa jika salah satu kaki dari meja tersebut hilang atau patah. Yang menjadi permasalahan disini adalah, sudahkah para guru kita memiliki sekurang-kurangnya empat kompetensi terebut?. Tidaklah sedikit, guru dengan kemampuan abal-abalan. Terbukti sekarang banyak guru mengampu mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kompetensi yang dikuasainya. Misalkan guru agama, tetapi mengajarkan materi matematika, guru agama mengajar materi olah raga, guru agama mengajarkan materi teknologi informasi dan komunikasi. Sangat wajar jika kita mengatakan guru tersebut sudah buta, bahkan lumpuh akan profesinya. Akibatnya adalah, ketidak sinkronan antara materi yang diajarkan dengan penanggap tutur. Walaupun tidak menutup kemungkinan, seorang guru memiliki kemampuan yang berbeda genre materi.

Saat ini, zaman sudah mencapai pada kata “Guru Tak Berwibawa.” Dengan kata lain, setiap guru tidak layak menyangkal jika peserta didik menyematkan ketidak wibawaan baginya. Karena fakta membuktikan begitulah adanya.

Pertanyaanya adalah, seberapa besar perbedaan antara Guru dengan Dosen?!. Berwibawakah Dosen?.

Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. lknlkn

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: