Aneka Jalan Hidup Mahasswa

Aneka Jalan Hidup Mahasswa

Oleh Luthfi, Bachtiar

Melihat benyak wanita-wanita cantik berlalu lalang di depan kelas kampus merupakan salah satu hal yang digemari oleh sebagian mahasiswa. Begitu juga sebaliknya. Menghambur-hamburkan uang saku, dan lain sebagainya. Panorama seperti itu kerap terjadi dan bukan hanya merupakan masalah bagi mahasisiwa itu sendiri. Tetapi juga bagi orang tua. Pasalnya, orang tua sudah memberikan uang saku selama jangka waktu tertentu dan menaruh banyak harapan pada anaknya tersebut. Yang terjadi adalah, orang tua akan membuang garam ditengah laut jika sang anak perperilaku seperti itu.

“Hidup Mahasiswa!.” Aktifitas lain yang juga kerap dilakukan sebagai sebagian mahasisiwa adalah menjasi seorang aktifis kampus atau luar kampus. Gencar berpidato dengan orasinya di depan umum (mahasiswa lain), berdemostrasi dengan menyuarakan keadilan, kebebasan, kesejahteraan, menista para pemimpin, dan lain sebagainya dengan penuh semangat. Dilain sisi, dia melupakan satu hal fatal, yaitu tujuan utama mengenyam dunia perkuliyahan. Sehingga, nilai IPK yang didapat tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya, terutama bagi orang tua. Ironisnya lagi adalah, prektek KKN sudah dilakukan oleh para aktifis dalam melaksanakan agenda kegiatan-kegiatannya.

Tidak ada salahnya memang, jika seorang mahasiswa menjadi seorang aktifis aktif. Sebagian hal positif yang di dapat adalah mahasiswa dapat mengembangkan emosionalitas, intelaktualitas dan sikap bijak seorang pemimpin. Tapi, segala sesuatu akan buruk jika dilakukan secara berlebihan.

Era sekarang, memiliki predikat mahasiswa sempurna bukanlah hal yang mudah dan entah seperti apa. Mahasiswa yang berpakaian kemeja dan dimasukan, memakai calana bahan, pendiam tapi aktif bertanya dalam perkuliyahan, berbahasa krama dengan dosen (bagi mahasiswa yang berasal dari jawa), sering dianggap jadul atau culun oleh mahasisiwa lain. Entah itu merupakan sebuah rasa iri atau bukan.

Setiap mahasiswa, memiliki pandangan hidup masing-masing. Jika ada sebutan mahasiswa kupu-kupu (kuliyah pulang, kuliyah pulang), maka mahasiswa tesebut adalah mahasiswa pasif yang tidak tahu arah sebenarnya dimana makna perkuliyahan.

Menjadi agen of change adalah harga mati bagi setiap mahasiswa. Apalagi jika mahasiswa tersebut berdomisili pada wilayah terpencil dan masih tertinggal dalam hal pendidikan. Hal tersebut, bukan sebuah beban berat jika kita memiliki suatu pedoman hidup yang bermanfaan.

 

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: