Cerpen

KAYUHAN  SEJOLI

Oleh Luthfi, Bachtiar

 

Belum ada tanda-tanda lawan malam. Setelah berpanjat do’a, dua sejoli bergegas mengayuh kehidupan, ancak tepatnya. Berbekal cangkul, yang oleh mereka sebut sebagai kembar siam. Yang dislampirkan pada pundak kiri mereka. Yang selalu di_lap dengan grenda batu merah.

Dibanding dengan yang lain, mereka tertinggal satu dua ayunan. Tapi panjatan do’alah yang meninggalkan beberapa ayunan didepan lainnya. Mengayuh satu dua ptaran roda, menyalip jalan berlubag yang selalu mereka lewati, selalu ada lagi dan lagi. Satu detik sama dengan satu kayuhan. Serasa sudah satu tombak lawan malam berdiri menampakkan rupanya.

Masih menunggu, menunggu sembari mengayuh ancak. Sudah dua desa mereka lewati. Mungkin di sana. Di sana adalah surga mereka, suga para tukang kuli sawah. Yang berperang dengan gempuran sinar matahari dan beratnya tanah dengan bersenjatakan cangkul dan tameng caping jerami.

Dapat juga mereka. “Satu orang, sini!”. Kata salah satu juragan yang dari tadi menunggu kayuhan mereka. Mereka tetap mengayuh ancak mereka. Selanjutnya juga sama dengan sebelumnya. Mengayuh sampai mendapatkan yang trep. Setidaknya ada lima tawaran lebih yang didapat mereka. Belum ada seorangpun yang dapat menghentikan kayuhan putaran roda ancak mereka. Berbeda dengan lainnya yang dikatakan meninggalkan mereka satu ayunan didepan. Mereka hanya mementingkan kayuhannya sendiri.

Sampai hampir pada ujung sawah, mereka menekan roda ancak mereka. Genderang perang sudah ditabuh. Tanpa menunggu lama, mereka mengeluarkan tongkat yang ujungnya ditancapkan pada sebuah besi pipih tidak tumpul. Tameng jerami yang sudah mulai lusuh segera dipakainya. Tidak lupa masker dari kaos bekas untuk dipakai di muka, membuat mereka sepeti ninja.

. . .

Sudah setengah jalan mereka kerjakan. Tameng jerami sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan kucuran cahaya emas. Sesekali mereka membetulkan caping yang dikenakan. Hanya basa-basi. Cucuran air yang keluar dari pori-pori kulit mengalir tanpa arah dihapusnya. Menelusuri tubuh yang kekar yang hampir seluruhya legam. Hanya gigi dan mata yang tampak saat gulita.

Berbeda dengan Kris. Jeki, sebutan yang dicetuskannya sendiri. Mungkin agak sungkan dengan sebutan aslinya, Joko. Ia  rutin mengayuh ancaknya hampir satu minggu, menyebabkan tubuhnya seperti itu. Mungkin merasa iri memang, melihat kris yang berbeda dengannya. ia hanya mengayuh ancaknya sekitar satu atau dua hari dalam sati minggu.

Datang juga upeti yang mereka nanti. Memang sesekali mereka menganggap dirinya sebagai raja penuh wibawa. Tidak ada salahnya memang, wajar saja jika setiap orang ingin hidup mewah dan berkecukupan seperti raja. Upeti yang mereka dapatkan tidak seberapa. Upeti itu dibunghus dengan daun pisang, diluarnya dilapisi koran bekas dan minuman coklat kemerahan beraroma melati. Sangat nikmat sekali memang, setelah mengayuh ancak yang tanpa adanya asupan apapun secuilpun.

Saling serobot, jorog dan tawa bersahut-sahutan adalah hal yang paling enak untuk dilihat. Juragan hanya tertawa kecil melihatnya. Jika tanpa rasa malu, maka akan turut pula dalam hal tersebut. Tapi itu hanya akan menyalahi etika.

Terpuaskan sudah mereka. Sekarang saatnya untuk mempertanggug jawabkan kewajibannya setelah mendapatkan hak. Hak yang mereka terima dengan ihlas tanpa keluhan apapun. Secara aturan mereka akn memperoleh dua hak. Hak yang pertama sudah mereka dapatkan. Sedangkan hak yang kedua belum mareka dapatkan. Dan lawan sianglah yang akan mengantarkan mereka untuk mendapatkan hak selanjutnya.

Tubuh hampir mencapai puncakya. Denyut nadi sudah tak seirama dengan genderang perang waktu pagi. Lengan sudah mengeluhkan kekendorannya. Tak kalah, perut sudah mulai mual untuk melanjutkan. Satu kayuhan lagi akan selesai. Sedangkan Kris masih teringgal satu kayuhan dari Jeki.

Selesai sudah jeki mengayuh tanggung jawabnya, tapi belum untuk Kris. Jika dilihat, ini adalah panorama unik. Kris hanya tersenyum melihat kanca satu kayuhannya tersebut, yang berlawanan arah dengannya. “dasar kamu jek”, jeki terdiam. Bisa juga dibilang hamper tak acuh, karena sibuk mungkin. Itulah sebab mengapa mereka selesai bersamaan. Sampai juga didepan Kris, langsung saja mereka berleya-leye dengan yang lainnya dibawah gubuk jerami dengan topangan empat bambu ampel. “mmm… nikmat sekali hidup ini.”

. . .

            Sambil melihat-lihat mereka mengayuh ancak tunggangannya. Sesekali mereka bercanda yang hampir membuat celaka mereka kerena kendaraan kencang dibelakang. Tak jarang juga mereka mendapatkan klaksonan keras motor, tentu saja hal tersebut membuat telinga mengeluarkan bunyi “ngiiiiing” cukp lama.  Ampiran mereka selanjutnya adalah warung makan Bu Retno. Selain pelayannya cantik harganya juga trep dengan apa yang ada dalm saku pokeknya.

            “Biasa bu”. Cukup mengatakan dua kata itu, pelayan langsung bisa memehami apa yang mereka inginkan. Tidak mustahil juga dilain waktu cukup dengan senyum atau mengangkat alis, pelayan akan dapat memahami. Jeki mulai usil. Sastri, pelayan cantik itu mendapat serangan gombalnya. Lain halnya dengan Kris yang hanya duduk manis, semanis teh yang dipesannya.

            Bu Retno hanya tersenyum secuil melihat kelakuan Jeki. Ia menganggap mereka seperti air dan minyak yang menempel di telapak tangan. Jika disapu dengan sabu akan hilang seketika. Jika dibandingkan, Kris lebih beruntung karena masih mempunyai ayah yang masih mampu manggorek nafkah. Ayah Jeki juga sebenarnya masih mampu jika saja belum terpatok nisan diatas kepalanya.

            “Sudah bu…”. Dalam hal apa saja, Jekilah yang selalu mengawali berujar. “Hari ini Ibu kasih gratis”. Jeki hanya menjawab dengan senyum lebar yang membuat gigi serinya terlihat keluar. “Trimakasih Bu.” Kris menambahi.

Sepertinya mereka lebih bersemangat dari sebelumnya. Mungkin karena perutnya sudah diisi kembali yang sebelumnya sudah diisi dengan upeti pemberian juragan. Bisa juga karena isi saku mereka yang tidak berkurang sehelaipun.

            Jeki tertinggal jauh di belakang. Dia sengaja mengambil ancang-ancang. “Yang kalah mijit” Jeki berhasil membuat Kris terpancing apa lagi dengan pernyataannya itu. Sebenarnya itu hanya akalannya saja agar mereka cepat sampai pada pintu rumah.

            Kedatangan Jeki disambut senyum dan canda. Dilihatnya ibu yang sedang melayani pembeli dengan tangan dan jemarinya yang lues seperti penari jaipong. Dilihatnya juga anak kecil sedang asik menonton TV dengan menangkringkan keduakakinya pada tembok yang catnya sudah kusam, retak pula. Sedangkan tangannya memegang remot tua yang sudah diplaster hampir disemua bagian.

            Setelah memarkirkan ancaknya pada pohon manga di depan rumahnya, Kris disalami dengan nyanyian burung milik ayahnya. Melihat burung kacer yang saling beradu bakat, ada juga burung kenari yang sedang madi. Mure tak kalah juga, meloncat kesana-kemari. Mungkin dia ingin terbang bebas. Tetapi begitulah adanya. Semua yang ada di muka bumi ini dalah milik manusia. Sikap syukur adalah pujian terpuji kepada yang Maha Kuasa.

. . .

Mega abang telah mencurahkan jiwanya, yang membuat hijau sawah menjadi merah. Burung gelatik berjingklakan untuk yang terakhir kalinya. Sambil lalu kembali dari peraduannya. Angin berayun tanpa arah, menimbulkan gerak semu dan gesekan-gesekan daun cabang pohon turi dan sekitarnya. Semata menuju kepada tempat yang paling adil di alam semesta ini. Ayam mulai berjalan menuju kandang sambil mematuk apa yang ia temui didepannya. Juga mencari jarum yang ia pinjam dari elang. Hal yang sama dilakukan oleh sekawanan lainnya.

“Ayo kita berangkat”. Kata Kris sambil menyelipkan jempol dan jari kakinya pada alas kaki, sedangkan tangannya sibuk mengurusi kancing baju yang ia kenakan. Berbeda dengan pagi tadi yang menggunakan ancak. Mereka menggunakan becak warisan ayah Jeki yang kadang digunakannya jika tidak melakukah hal yang tadi pagi mereka lakukan. Meskipun tidak menghasilkan upeti yang tidak lebih sedikit.

Demikian adalah yang paling ditinggu-tunggu mereka, terutama Jeki. Saat dimana mereka telah dikucuri sinar emas pagi tadi. Dan sekarang adalah waktunya untuk menuai hasil. Tidak seberapa memang, jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukannya. Apalagi dibanding dengan orang yang memakai kalung bertuliskan dan megatasnamakan sebagai wakil mereka. Tapi menurutnya itu lebih baik, dan sangat terpuji. Satu lagi yang tidak ternilai harganya, yaitu nikmat.

Kris yang duduk di depan, membuatnya lebih tenang ketimbang Jeki yang mengayuh pedal dibelakang. Tak jarang ia merasa bokongnya kesakitan kerena tidak bisa menghindari lubang yang dilewatinya. Meski seperti itu, mereka tetap menikmati apa yang sedang mereka rasakan.

Sampai pada jalan buntu, mereka baru sadar bahwa tellewati sudah rumah juragan yang akan mereka datangi.

Juragan dibuat kagum oleh kesejolian mereka. Yang dianggap berbeda dengan yang lain. Sangat wajar jika si juragan menaruh harapan kepada mereka. Dog-losan saja mereka yang dibarengi pamit. Setelah Jeki, sekarang giliran Kris.

Jeki tidak lupa pemintaan ibunya. Ia ingin membeli jagung manis rebus di perempatan jalan untuk ibunya. Lima ribu sudah lebih dari cukup dengan adiknya. Karena makanan burung di rumah hampir habis, Kris hanya diminta ayahnya agar membelikan makanan burung. Biasanya disekitar perempatan situ ada toko yang masih segan buka menjual makanan burung.

Mereka sudah ditunggu penghuni rumah. Mereka tahu, semua yang ada di alam ini adalah fana.  Haltersebut yang membuat mereka mampir pada sebuah kotak yang terbuat dari kayu jati, disandingkan di pinggir jalan. Hanya sekedar mengingat pada yang maha kuasa kata mereka.

Sembilan polisi tidur sudah dilewati. Satu lagi sampai. “Mana jagung rebusku.” Suara itu terdengar sebelum alas kaki menyenyuh tanah.“Cerewet sekali anak kecil ini.” Sambil memasang mimik muka gemes karena ulah anak tersebut. Sangat trep sekali jika dipasangkan dengan Jeki yang suka iseng dan jail. Kris dan ibu hanya tersenyum kecil melihat apa yang mereka lakukan. Selanjutnya segera saja Jeki menarik keluar amben tua warisan ayahnya diemperan rumah yang tidak tertutup genteng berlumut.

Merebahkan badan dalam amben tua, memanfaatkan pandangan memandang telanjangnya bulan bintang sebagai penghias langit malam. Manghempaskan nafas keluar jauh menuju awang-awang yang selanjutnya diserap kembali dengan langkah pajang kedalam jiwa. Pandangan mata tidak bisa menelusuri hingga ujung langit. Sesekali menggerakan tangan pada gelas kaca dengan isi teh bercampur gula yang disambut baik oleh kedua bibir, seketika lidah merasakan kenikmatan. Kenikmatan percikan surga.

Hening… sesekali terdengar tawa ataupun cekikikan mereka. Mereka yang mempunyai kesetiaan melampaui langit, yang mempunyai keadilannya lebih jelas dari angin dan yang mempunyai kekuatannya lebih keras dari air. Mereka, menyimpan banyak harapan untuk hidup dan dunia seisinya.

 

 

Catatan :

  1. Ancak : sebuah alat yang dipasang pada boncengan sepeda agar memuat lebih banyak barang. Biasanya digunakan untuk menyonggol bawang merah.
  2. Kanca : teman, sahabat.
  3. Trep : pas, sesuai, cocok.
  4. Mega abang : Mega merah. Yang biasanya terlihat menjelang petang.
  5. Dog-losan : Datang langsung pergi, tidak mampir lama.

Kris dan Jeki (joko), adalah istilah yang dipakai sebagai pengganti Indonesia dan Australia.

Brebes, 16 juni 2012

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: