Cerpen, Tiga Kesalahan

TIGA KESALAHAN

Oleh Luthfi, Bachtiar

Malam yang hening tapi cerahnya mengema ke seluruh sudut ruangan. Hanya terdengar angin lewat dan gesekan-gesekan dedaunan yang bersuara seperti ular mendesir. Aku pasrahkan tubuh ini pada dipan jati, penuh ukiran rumit. Pandanganku bebas. Bebas bagaikan burung kegirangan karena lepas dari belenggu kayu tuannya. Tidak jauh berbeda dengan pikiranku, bebas melayang-layang seperti layangan terputus setelah diadu.

            Ujung telunjuk dan jari tengah tanganku, aku tempelkan pada pelipisku. Sedangkan tangan yang kanan, aku kepalkan lumayan keras, lalu aku angkat, dan aku cium jari manis kananku. “Ohh… tuhan.” Terdapat perak yang melingkar lima tahun silam. Lalu aku mulai beranjak untuk melihatnya, sang rupawan. Sangat cantik dan mempesona. Tidak kurang satupun darinya. “Seperti biasanya, kau tetap mempesona.”

. . .

Aku genggam erat jari-jari kecil, Sesekali telapak kananku mengelus alis, lalu ke bawah menelusuri hingga dagu gayur pucatnya.  Mataku berkedip-kedip, merasa akan ada sesuatu yang jatuh, tapi aku tutupi dengan kelopak.

Ia terbaring lemah pada rebahan mewah, empuk seperti awan, putih seperti kapas. Dengan mengenakan pakaian biru langit, tanpa kabut. Lengannya tidak luput dari selang kecil tipis. Setipis bibir pucat miliknya sekarang, seakan tersenyum mempesona. Masih dapat berujar lumayan jelas, meski kelopaknya tidak merekah sempurna.

 “Jari manisku1 akan hilang, akan aku potong …”

“Tidak. Aku tidak sependapat!.”

“Sudahlah, ini sudah usang. Sudah sepantasnya dibuang.”

“Aku bilang tidak ya tidak!. Susah payah aku mencari dan mempertahankannya.”

“terserah kamu saja, tapi itu yang aku inginkan.”

“Saat angin laut menepi ke daratan, mengangkat pasir dalam awang-awang, membengkokan runcingnya cemara. Kita saling bertolak punggung, tapi lengan kita berhimpitan. Seraya merapatkan kedua telapak kanan kita, dengan jari tengah terlipat. Dan aku berujar, “Coba kamu lepaskan telunjukmu, kemudian kelingkingmu, kemudian ibu jarimu. Sekarang jari manismu.” Mendapatkan sebuah keganjilan dengan jari yang lain andai akan melepasnya. Keganjilan yang hanya bisa dijawab dengan senyum, senyum yang disusul dengan tawa kecil malu-malu. Dan kamu menjawab dengan sempurna. Apa kamu lupa itu?.”

“haha….” Dia tertawa lirih berbau sinis yang menyengat, sempat-sempatnya meski keadaannya seperti itu,

“Itu hanya mitos, bahkan menurutku itu dongeng yang tidak ada gunanya. Coba gunakan otakmu. Dengan orang gilapun kamu dapat melakukannya.” Lanjutnya.

Aku menganga, terperanga sambil menelan ludah. Langsung saja, pandangan aku alihkan kesamping. Kenapa pernyataan itu tidak pernah ada di pikiranku, melintaspun tidak pernah. Aku masih belum percaya apa yang ia ujarkan. Tapi apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Ah… tidak mungkin, ini hanya akal-akalan belaka.

“Tapi saat itu kamu menjawabnya dengan senyum kecil penuh manja”. Jawabku dengan tegas. Tapi ia hanya menjawab dengan diam. Diam dengan senyum sinisnya. Baru kali ini aku melihat dia tersenyum seperti itu dengan penuh kenikmatan.

Perdebatan kita dibuyarkan oleh kedatangan orang serba putih bersih. Dia mengenakan celana putih, jas yang dikenakan juga putih. Warna putih hampir menutupi seluruh bagian tubunhnya. Berkacamata, dengan membawa dua wanita muda cantik di belakangnya, mereka membawa jarum suntik beserta isinya.

            Sejenak, aku alihkan pandangan keluar jendela. Terlihat anak-anak mungil sedang bermain jungkat-jungkit, berlarian, ayunan, perosotan dan merobos pada ban yang seperempat bagiannya dikubur dalam tanah. Tidak jauh dari mereka, terlihat ibu-ibu sedang berbincang nikmat. Ada yang sedang menggendong bayi. Itulah yang paling menarik perhatianku, meski beberapa saat. Tangan kirinya memegang cawan, lengkap dengan isinya, sedangkan tangan kanannya memegang sendok dari plastik, dan bersiap untuk menyuapi yang sedang digendongnya. “Aku belum menikmati apa yang sudah dia nikmati…” Lima tahun, itu bukan masalah, hanya waktulah jawaban satu-satunya. Bersabar.

Kemudian, orang serba putih itu pergi dengan suatu pesan kepadaku. “Semuanya akan baik-baik saja, hanya perlu waktu dan kesabaran. Tidak akan lama kok…”. Begitulah pesannya. Dengan senang hati aku jawab dengan senyum yang aku barengi anggukan kecil.

            Aku kembali memegang tangannya, kali ini dengan kedua telapak tanganku, aku sapu dengan lembut. Berharap pucatnya hilang. Sesekali aku tempelkan pada pipiku yang tidak selembut pipinya.

“Apakah kamu masih menyimpan apel kristal2 pemberian mendiang ibuku?.” Tanyanya padaku.

“oh… iya, tentu. Aku masih menyimpan dan merawatnya dengan baik.” Jawabku dengan sumringah, seperti ada harapan untukku atas ujarannya  tadi. Apel Kristal itu biasa digantungkan  pada kalung yang ia dikenakan, sepeti liontin tapi bukan liontin. Tapi kali ini tidak, makanya aku simpan.

“Jual saja, untuk biaya hidup. Lagi pula, aku sudah tidak membutuhkannya lagi”.

            Harapan itu sirna seketika, berbarengan dengan ahir dari kalimat yang ia ujarkan barusan. Sebenarnya bukan di ahir kalimat, tepatnya dari awal kalimat. Aku tertunduk lesu, tepatnya hatiku yang tertunduk.

“Kenapa?, aku masih sanggup menafkahimu. Apakan selama ini kamu tidak puas dan merasa kurang dengan apa yang sudah aku berikan?. Tidak!. Itu pemberian mendiang ibu saat hari terbaik yang pernah kita alami. Tidak bisa senaknya menjual apel kristal itu begitu saja. Aku keberatan!.”

“Kamu begitu egois. Untuk kali kedua permintaanku kamu tolak. Tapi aku tetap pada permintaanku”.

“Sebenarnya apa yang kamu inginkan, sehingga kamu mengatakan seperti itu?.”

            Dia malah menjawabnya dengan mimik acuh penuh kemalasan. Tapi mimik itu membuatku setengah tertawa. Mengingatkanku saat dia sedang ngambek. Jika aku tidak menuruti apa yang dia inginkan, karena ada masalah dengan orang lain atau dirinya sendiri, terutama saat aku usil padanya.

            Tapi ini berbeda dengan sebelumnya. Kali ini aku tidak dapat mengendalikan mimik tersebut. Dengan sedikit rayuan dan sentuhan lembut tanganku, dia akan takluk dan bersender pada pundakku. Kali ini aku ragu untuk melakukannya. Aku takut kalau dia malah menghindar. Remuk sekali sebenarnya hati ini.

            Terpaksa, aku meninggalkannya beberapa saat. Dengan alasan ingin mencari minum. Sudah mendapatkan minuman, aku menghampiri kolam ikan koi. Mengingatkanku pada yin dan yang. Terserah orang ingin berfilosofis apa tentang itu. Tapi menurutku, yin dan yang adalah pasangan  serasi, saling melengkapi satu sama lain, antara wanita dan pria yang setia. Memikirkan itu membuatku tersenyum sejenak.

Aku mundur dan duduk pada kursi pinggir tembok. Semua yang aku rasakan, dilampiaskan pada pena kesayanganku, pena itu selalu terselip diantara kerah bajuku. Setelah aku ambil, kemudian aku putar-putar dengan jari-jariku. Sesekali aku buka tutupnya, lalu ditutup kembali. Begitu seterusnya, lagi dan lagi.

Sepertinya semua orang disini mempunyai masalah yang hampir sama. Sedih. Kecuali anak mungil yang aku lihat tadi di taman. Tidak lama berselang, aku baranjak dan kembali menemuinya.

Dia tidak berubah sedikitpun selama aku tinggal. Dengan wajah yang masih pucat, serta kelopak yang tidak merekah sempurna.     Kali ini, kali ketiga, aku pegang tangannya, lalu aku kecup sambil beruajar “Semua akan baik-baik saja. Tidak usah cemas, aku akan bersamamu.”

“Bolehkah aku bertanya?.” Ujarnya dengan lembut. Tapi mungkin ini hanya awalnya. Dan akan berahir seperti sebelumnya. Meremukan!.

“Iya, mau tanya apa?.” Jawabku dengan sedikit cemas.

“Bagaimana keadaan tulip kuning3 kesayanganku, Apa kamu selalu menjaganya?.”           

            “Ya, tentu saja            . aku selalu merawatnya dengan baik. Hanya saja, kemarin aku lihat dia agak layu, mungkin karena kemarin terlalu banyak terkena air hujan. Tapi tidak apa-apa, tidak usah cemas.” Jawabku jujur.

            “Jika kamu tidak bisa meluangkan sedikit waktu kepadanya, berikan pada tetangga, atau kembalikan saja di tempat semula.”

            Astaga, salah apa lagi ini. Seharusnya aku tidak berkata sejujur itu. Tuhan… sebenarnya apa yang terjadi padanya, hantu apa yang telah merasuki jiwanya?. Aku sudah mencapai batas kesabaran, apa yang harus aku lakukan?. Sungguh dia sangat berbeda. Entah apa yang sedang dia pikir dan rasakan. Semakin lama aku akan putus asa dengan semua ini. Lagi-lagi aku menunduk.

. . .

            Kurang lebih hampir satu bulan, ahirnya dia dipulangkan ke rumah. Benar juga apa yang dikatakan orang Lebanon, jika mereka menyebut bilan april adalah bulan nisan, atas apa yang sudah aku alami.

            Lumpuh sementara bukanlah hal biasa, tapi itu bukan masalah yang luar biasa, bagiku. Jika ditambah dengan stroke atau yang lainnya, juga tidak ada bedanya. Masih ada kursi roda, tongkat bantu berjalan dan ada aku pastinya. Yang menjadi langitmu4. Mmm… Belum bisa punya buah hati ya?, juga bukan masalah luar biasa.

Kaki kecilku mulai melangkah mendekatinya. Lalu aku dekatkan bibirku pada pendengarannya dan aku bisikan seperti suara dedaunan yang saling bergesekan “Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia walau jalannya berliku-liku. Dan, apabila sayapnya merangkulmu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi disela sayap itu melukaimu. (kahlil Gibran)”.

Sudah tidak pucat lagi. Aku telusuri tubuh indahnya, kaki hingga rambut legamnya. Tangannya yang lembut, inginku menyentuhnya. Wajahnya penuh dengan pernak-pernik cantik, mata lentik, janggut gayur, alis tebal, pipi yang tembam, bibir yang merona tanpa gincu. Sangat mempesona.

Aku rebahkan jiwaku disanding jiwanya. Aku genggam erat tangannya, bukan dengan jari tanganku. Tapi dengan kesetiaanku. Aku peluk dia, bukan dengan kedua tanganku. Tapi dengan rasa cintaku. Aku kecup keningnya, bukan dengan bibirku. Tapi dengan rasa kasih sayangku.

“Hingga mencapai nirwana, aku akan tetap bersamamu, istriku.”

“Jangan kau bengkokan lingkaran cincin5 ini.” Ujarnya penuh mesra. Berbarengan dengan berlalunya angin malam, kami terlelap. Menuju nikmatnya nirwana.

 

Catatan

  1. Jari manis : Salah satu lambang cinta sejati, dipakai untuk cincin pernikahan. Dapat jga diartikan kekasih.
  2. Apel Kristal : Salah satu lambang cinta sejati, selain mawar merah.
  3. Tulip Kuning : lambang cinta dan harapan.
  4. Langit : pengayom, karena selalu ada setiap saat.
  5. Lingkaran Cincin : Cincin pernikahan, ikatan janji kesetiaan.

Brebes, 16 juni 2012

 

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: