Aster

ASTER

 

Dengan harapan kaki kecil. 
Berjalan seperti ular pasir. 
Memakai sandangan yang secuil. 
Dan bekas goresan martil. 

Dia menuju dalam hayalan. 
Yang kesemuanya tak ada jalan. 
Dia bersekutu dengan sang astarte. 
Sehingga mampu mendikte. 

Hayalan yang rapuh. 
Yang menurutnya ampuh. 
Semua membayangkan itu adalah sepuh. 
Terus meniti meski dia luruh. 

Aster. . , 
Dia mempunyai berlian sebagai senjata. 
Hati sebagai lentera. 
Suara sebagai arah. 
Kata sebagai benteng. 

Aster. . . 
Mata mengeluarkan cermin. 
Melihat panorama dalam altar. 
Edelweiss memeluk dan menciumnya.

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: