Makalah Berbicara dan Tata Bahasa

Berbicara dan Tata Bahasa

Oleh Luthfi, Bachtiar

I.  PENDAHULUAN

Manusia sebagai mahluk sosial haruslah hidup berdampingan dengan yang lain.

Berdampingan dengan yang lain haruslah mengerti apa yang dimaksud dari yang lain kepada kita atau dari kita kepada yang lain. Salah satu cara agar maksud kita atau yang lain dalam satu faham, maka harus ada alat komunikasi yang sefaham. Atau kita sebut dengan nama bahasa.

Berbicara merupakan salah satu cara menyampaikan informasi kepada yang lain atau dari yang lain kepada kita. Jadi berbicara adalah suatu hal yang fital bagi kita semua. Tanpa adanya bicara, kita akan sulit unuk mengungkapkan informasi yang akan kita berikan atau kita serap.

 

II. RUMUSAN MASALAH

  1. KEGUNAAN KTRAMPILAN BICARA
  2. RAGAM SENI BERBICARA
  3. BATASAN BERBICARA
  4. TUJUAN BERBICARA
  5. KONSEP DASAR BERBICARA
  6. BERBICARA DALAM KONSEP TATA BAHASA

 

III. PEMBAHASAN

A. KEGUNAAN ATAU ANFAAT KETRAMPILAN BERBICARA

1. Berbicara Sebagai Suatu Ktrempilan Berbahasa

Berbicara sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan kosa kata yang diperoleh anak; melalui kegiatan menyimak dan membaca. Kebelum-matangan dalam perkembangan bahasa juga merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan-kegiatan berbahasa. Perlu kita sadari juga bahwa ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan bagi kegiatan berbicara yang efektif banyak persamaanya denga yang dibutuhkan bagi komunikasi efektif; dalam keterampilan-keerampilan berbahasa yang lainnya.

2. Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi

Manusia merupakan mahluk sosial. Yang berkegiatan bermasyarakat dan saling timbal balik.dengan adanya kegiatan tersebut, maka lahirlah yang namanya komunikasi. Berkomunukasi sama saja dengan berbicara atau berbahasa. Dengan adanya komunikasi, maka satu sama lain akan saling mengerti informasi yang disampaikan. Selain itu, komunikasi juga dapat memepererat tali persaudaraan dan untuk menentukan suatu keputusan dari suatu masalah.

3. Berbicara Sebagai Seni dan Ilmu

Jika kita memendang bicara sebagai seni, maka penekanan diletakan pada penerapannya pada alat komunikasidalam masyarakat, dan butir-butir yang mendapat perhatian. Antara lain :

  1. Berbicara dimuka umum
  2. Semantik ; pemehaman makna kata
  3. Diskusi kelompok
  4. Argumentasi
  5. Debat
  6. Prosedur parlementer
  7. Penafsiran lisan
  8. Seni drama
  9. Berbicara melalui udara

Dan jika kita memandang berboicara sebagai ilmu, maka hal-hal yang perlu ditelaah, antara lain sebagai berikut :

  1. Mekenisme bicara dan mendengar
  2. Latihan dasar bagi ajaran dan suara
  3. Bunyi-bunyi bahasa
  4. bunyi-bunyi dalam rangkaian ujaran
  5. Vowel-vowel
  6. Diftong-diftong
  7. Konsonan-konsonan

viii.Patologo ujaran.[1]

 

B. RAGAM SENI BERBICARA

Secara garis besar, berbicara dapat dibagi atas :

  1. Berbicara dimuka umum pada masyarakat, yang mencakup empat jenis. Yaitu :
    1. Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan. Yang bersifat informatif.
    2. Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan dan persahabatan.
    3. Bericara dalam situasi-situasi yang bersifat membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan.
    4. Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati.
  2. berbicara pada konverensi, yang meliputi :

a. Diskusi kelompok, yang dapat dibedakan atas :

  1. Tidak resmi, dan dapat diperinci lagi atas:

-          kelompok studi

-          Kelompok membuat kebijaksanaan

-          Komik

  1. Resmi, yang mencakup :

-          Konferensi

-          Diskusi panel

-          Simposium

b. Prosedur parlementer

c. Debat.[2]

 

C. BATASAN BERBICARA

Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, mengatakan atau menyampaikan pikiran atau gagsan dan perasaan. Sebagai perluasan dari batasan ini  dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar dan kelihatan yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Lebih jauh lagi, berbicara merupakan suatu bentuk perilaku menusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik dan linguistik sedemkian ekstensif, secara luas, sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.

Tujuan utama dari bebicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan fikiran secara efektif, sebaiknya pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin di komunikasikan. Dia ahrus bisa mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengarnya dan harus mengetahui prinsip-orinsip yang mendasarisegal situasi pembicaraan. Baik secara umum atau perseorangan

Selanjutnya, perlu kita fahami beberapa prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara. Antara lain :

  1. Membutuhkan paling sedikit dua orang.
  2. Mempergunakan suatu sandi linguistik yang difahami bersama.
  3. Menerima atau mengakui suatu daerah referesi umum.
  4. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan.
  5. Menhuungkan setiap pembicaraan dengan yang lainnya dan kepada lingkungannya dengan segera.
  6. Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini.
  7. Hanya melibatkan aparatatau perlengkapan yang berhubungan dengan suara/bunyi bahasa dan pendengaran.
  8. Secaa tidak pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil.[3]

 

D. TUJUAN BERBICARA

1. Menghibur,

2. Mengiformasikan,

3. Menstimulasikan,

4. Meyakinkan dan

5. Menggerakan.

 

E. KONSEP DASAR BERBICARA

1. Berbicara dan menyimak adalah kemampuan resipokal ( saling melengkapi dan berganti peran).

2. Berbicara adalah proses individual berkomunikasi.

3. Berbicara adalah ekspresi kreatif ( tidak bisa menampilkan kata yang sama dalam waktu yang berbeda).

4. Berbicara adalah tingkah laku.

5. berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari (empat aspek berbahasa hakikatnya   belajar).

6. berbicara distimlasikan tegantung pengalamannya.

7. berbicara adalah alat untuk memperluan pengetahuan atau cakrawala.

8. bebicara sangat didukung atau berkaitan dengan linguistik dan lingkungan.

9. berbicara adalah pancaran pribadi (berhubungan dengan kejiwaan).[4]

 

F. BEBBICARA DALAM KONSEP TATA BAHASA

1. Pengertian Tata Bahasa

Tata bahasa  atau grammar adalah studi mengenai struktur kalimat, terutama sekali dengan acuan kepada sintaksis dan morfologi, karap kali disajikan dengan bukuteks atau buku pegangan. Suatu pemerian kaidah-kaidah yang mengendalikan bahasa secara umum atau bahasa-bahasa tertentu, yang mencakup semantik, fonologi, dan bahkan kerap kali pula pragmatik.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa :

a. dalm arti sempit, tata bahasa mencakup sintaksis dan morfologis

b. dalam arti luas, tatabahasa selain mencakup sintaksis  dan morfologis, juga mencakup semantik, fonologi dan pragmatik.

Dari sumber lain, kita dapati pula keterangan bahwa tata bahasa (grammar) adalah suatu pemerian atau deskripsi mengenai struktur suatu bahasa dan cara menggabungkan unit-unit lnguistik seperti kat dan frasa untuk menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa tersebut. Biasanya juga untuk mempertimbankan makna-makna dan fungsi-fungsi yang dikandung oleh kalimat-kalimat tersebut dalam keseluruhan sistem-sistem bahasa itu. Pemerian itu mungkin atau mungkin tidak meliputi pemerian bunyi-bunyi suatu bahasa.[5]

2. Anaka Tipe Tata Bahasa

  1. Tipe bahasa Deskriptif

Tata bahasa deskriptif adalah suatu epndekatan yang memerikan atau mendeskriptifkan konstruksi-konstruksi gramatikal yang digunakan dalam suatu bahasa, tanpa membuat sesuatu pertimbangan evaluasi mengenai keddudukannya dalam masyarakat. Tata bahasa ini adalah lumrah dan sudah biasa salam linguistik, dimana sudah lazim merupakan praktek baku untuk menyelidiki suatu ”korpus” bahan lisan atau tulis,  dan memerikan secara terperici pola-pola yang dikandungnya.

Denag perkataan lain, tata bahasa deskriptif adalah sejenis tata bahasa yang memerikan bagaimana suatu bahasa dituturkan dan atau ditulis secara aktual, dan tidak menyatakan atau menentukan begaimana seharusnya bahasa itu dituturkan atau ditulis.

  1. Tata Bahasa Pedagogis

Tata bahasa pedagogis adalah suatu deskripsi dramatikal mengenai suatu bahasa yang diperuntukan bagi masud-maksud pedagogis, seperti pengajaran bahasa, rancang bangun silabus, atau persiapan materi atau bahan pengajaran. Tata bahasa pedagogis, daat saja didasarkan pada :

1)  Anlisis gramatikal dan deskripsi suatu bahasa

2) teori gramatikal tertentu

3) sudi atau telaah mengenai masalah-masalah gramatikal para pembelajar

4) gabungan atau kombinasi berbagai pendekatan

c.   Tata Bahasa Perspektif

Tata bahasa perspektif yaitu suatu tata bahasa yang menyatakan kaidah-kaidah bagi apa yang dianggap merupakan pemakaian yang paling tepat dan yang terbaik. Tata bahasa perspektif ini merupakan suatu buku pegangan atau manual yang berfokus pada konstruksi-konstruks tenpat pemakaian dibagi-bagi dan menetapkan kaidah-kaidah yang menata atau mengendalikan pemakaian bahasa yang benar secara sosial.

d. Tata Bahasa Referensi

Tata bahasa referensi adalah suatu deskripsi atau pemerian gramatikal yang mencoba menjadi sebaik mungkin bersifat komprehensif sehingga dapat bertindak sebagi buku referens, buku acuan rujukan bagi orang-orangyang menaruh minatdan perhatian dalam fakta, fakta gramatikal yang mantap.

  1. Tata Bahasa Teoritis

Tata bahasa teoritis adalah suatu pendekatan yang berada di luar studi bahasa bahasa individual, menentukan konstruksi-konstruksi apa yang diperlukan untk melaksanakan setiap jenis gramatikal, dan bagaimana semua itu dapat diterapkan secara konsisten dalam suatu penelitian suatu bahasa manusia. Jadi, sebenarnya hal ini merupakan gagasan atau nosi pokok dalam setiap penelitian kesemestaan linguistik

Pada dasarnya ada tiga kesemestaan bahasa. Yaitu :

  1. Kesemastaan substansif. Yaitu kesemestaan bahasa yang terdiri dari seperangkat- seperangkat kategori yang diperlukan untuk menganalisis suatu bahasa, seperti nomina, pertanyaan, orang pertama, antonim dan vokal.
  2. Kesemestaan formal. Yaitu seperangkat kondisi-kondisi abstrak yang mengendalikan cara yang dapat dibuat untuk menganalisis suatu bahasa, faktor-faktor yang harus dituliskan menjadi suatu tata bahasa, kalau hal itu dianggap perlu memeberhasilkan atau menyukseskan cara kerja kalimat-kalimat dalam suatu bahasa.
  3. Kesemestaan implikasional. Yaitu kesemestaan yang selalu diambil dari ”kalau X, maka Y”. Maksud dan tujuannya adalah menemukan hubungan-hubungan yang konstan antara dua atau ebih sifat bahasa.
  4. Tata Bahasa Tradisional

Tata bahasa tradisional adalah suatu istilah yang kerapkali digunakan untuk meringkaskan jajaran sikap-sikapdan metode-metode yang dijimpai pada masa studi gramatikal sebelum kedatangn atau kemunculannya ilmu linguistik.

Sebagai tambahan perlu dicatat bahwa menurut kaum transformasionali, tata bahasa tradional bukanlah suatu istilah teknis ata bahasa transformatif. Namun, istilah taa bahasa tradisianal sering digunakan, bahkan kerapkali pula dengan konotasi yang bai, untuk menunjuk/mengacu kepada :

  1. Tata bahasa generatif yang tidak eksplisit, yang mengandung hukum-hukum yang samar-samar dan kepercayaan pada intuisi pembaca.
  2. Suatu metode deskriptif yang menerima struktur logika abstrak bagi kalimat-kalimat serta berusaha menemukan unsur-unsur ketatabahasaan kalimat-kalimat tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan intuitif mengenai unsur-unsur logika tersebut.

Tujuan utama tata bahasa tradisional adalah untuk mengatakan pada pembaca bagai mana cara membuat atau membangun kalimat yang benar berdasakan seperangkat resep yang eksplisit.

  1. Tata Bahasa Historis

Dari segi waktu, tata bahasa historis dibagi menjadi dua. Yaitu :

  1.                           i.            Tata Bahasa Historis. Yaitu suatu studi sistematis mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu bahasa atau pada kelompok bahasa. Dari abad ke abad.
  2.                         ii.            Tata bahasa deskriptif . Yaitu suatu studi mengenai pemakaian serta fakta bahasa yang nyata yang ada pada suatu waktu tertentu.[6]

 

IV. KESIMPULAN

A. Kegunaan Ketrampilan Bicara

1. Berbicara Sebagai Suatu Ktrempilan Berbahasa

2. Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi

3. Berbicara Sebagai Seni dan Ilmu

B. Ragan Seni Barbicara

1.Berbicara dimuka umum pada masyarakat.

2. Berbicara pada konverensi.

C. Batasan Berbicara

Hakikat dari berbicara hanyalah mengungkapkan informasi atau gagasn kepada orang lain dengan alat ujar yang kita miliki (manusia).

D. Tujuan Berbicara

Tujuan berbicara adalah : menghibur, mengunformasikan, menstimulasikan,

meyakinkan dan mempengaruhi.

E. Konsep Dasar Berbicara

1. Berbicara dan menyimak adalah kemampuan resipokal ( saling melengkapi dan berganti peran).

2. Berbicara adalah proses individual berkomunikasi.

3. Berbicara adalah ekspresi kreatif ( tidak bisa menampilkan kata yang sama dalam waktu yang berbeda).

4. Berbicara adalah tingkah laku.

5. berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari (empat aspek berbahasa hakikatnya   belajar).

6. berbicara distimlasikan tegantung pengalamannya.

7. berbicara adalah alat untuk memperluan pengetahuan atau cakrawala.

8. bebicara sangat didukung atau berkaitan dengan linguistik dan lingkungan.

9. berbicara adalah pancaran pribadi (berhubungan dengan kejiwaan).

F. Berbicara dalam Konsep Tata Bahasa

a    Tipe bahasa Deskriptif

b.   Tata Bahasa Pedagogis

c.   Tata Bahasa Perspektif

d.   Tata Bahasa Referensi

e.   Tata Bahasa Teoritis

f.    Tata Bahasa Tradisional

  1. Tata Bahasa Historis

 

V. PENUTUP

Demikianlah makalah ini dibuat. Dan pastinya masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak yang mesti dikoreksi. Pemakalah hanyalah manusiabiasa, yang sangat masih punya banya kesalahan. Oleh karena itu, pemakalah memohon kepada pembaca akan kritik dan sarannya yang membangun demi kebaikan bersama dan Semoga apa yang ditulis pleh pemakalah dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin….

 


 

Daftar Isi

 

  • Prof. DR. Tarigan, Henri Guntur, Pengajaran Tata Bahasa, Bandung : Angkasa, 1990
  • Prof. DR. Tarigan, Henri Guntur, Berbicara Sebagai Ketrampilan Berbahasa, Bandung : Angkasa, 2008
  • Prof. DR. Tarigan, Henri Guntur, Menyimak Sebagi Suatu Ketrampilan Berbahasa : FKSS – FKIP, 2008
  • Prof. DR. Tarigan, Henri Guntur, Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa : FKSS – FKIP, 2008
  • Buku Modul Berbicara ( Universitas Terbuka 1986)
  • Prof. DR. Tarigan, Henri Guntur, Termpil Berbahasa Indonesia Untuk SMP, Bandung : Angkasa, 1958


[1] DR. Tarigan, Berbicara Sebagai Ketrampilan Berbahasa, hal 3

[2] Ibid, hal 8

[3] Ibid, 15

[4] Ibid, hal 22

[5] DR. Tarigan, Pengajaran Tata Bahasa, hal 9

[6] Ibid, hal 12

Tulisan Sebelumnya
Tulisan Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: