KESENIAN JAWA ISLAM (JAWA TENGAH Dan SEKITARNYA)

KESENIAN    JAWA   ISLAM

(JAWA TENGAH Dan SEKITARNYA)

 

Oleh : Luthfi, Bachtiar

 

I.  PENDAHULUAN

Setiap Negara, terutama Indonesia ini tidak bisa dilepas kaitkan dengan budaya. Sudah barang tentu dan kita tahu bahwa di Negara Indonesia ini, sangat banyak sekali ragam budaya. Mulai dari sabang sampai merauke. Banyaknya budaya itu karena bangsa Indinesia memiliki banyak suku dan etnis, yang tersebar diseluruh penjuru negri ini. Diantaranya : suku jawa, suku sunda, suku batak, suku asmat, suku badui dan lain sebagainya. Tidak salah bila Negara kita berideologikan pencasila, yang bertuliskan bhinnekka tunggal ika, dan kita sudah tau arti dari istilah tersebut.

Sebagai warga Negara Indonesia kita patut berbangga dengan bermacam-macam ragam budaya yang kita miliki. Dan sebgai generasi penerus budaya, kita sepatutnya melestarikan dan menjaga budaya yang sudah kita miliki ini. Sebenarnya bukan hanya budaya saja, tetapi beragam kesenian pun banyak kita miliki. Seperti seni tari, seni lukis, seni ukir, seni pahat atau patumg, seni kriya, seni anyam dan lain sebagainya. Yang setiap dari suku-suku mempunyai ciri hasnya masing-masing.

Dari sekian banyak suku-suku yang ada di Negara kita ini, salah satunya adalah suku jawa. Yang mayoritas masyarakatnya berada di pulau jawa, tetapi tidak menutup kemungkinan masyarakatnya tersebar disluruh nusantara atau bahkan di dunia. sama dengan suku-suku yang lainnya, suku jawa juga mempunyan kebudayaan dan kesenian, yang sampai saat ini masih ada. Diantaranya adalah tari-tarian, wayang, batik, musik gamelan, ilmu sastra, arsitektur, upacara adat atau ritual dan lain sebagainya. Yang akan diulas beberapa dari sekian banyak informasi yang sudah dihimpun.

 

 

 

 

II.  RUMUSAN MASALAH

  1. Kesenian Tari-tarian Jawa (jawa tengah)

2        Arsitektur Jawa

3        Kesenian Wayang

4        Kesenian Musik Gamelan

 

III. PEMBAHASAN

Masayarakat  suku Jawa, mempunyai banyak sekali kesenian dan kebudayaan. Antara lain : tari-tarian, arsitektur bangunan atau tata bangunan, musik gamelan, wayang dan lain sebagainya.

1.  Seni Tari Jawa (jawa tengah)

Seni tari adalah slah satu jenis kesenian yang mengungkapkan suatu isi hati atau perasaan dan filosofis tertentu melalui garakan-gerakan badan ataupun anggota badan dengan indah  dan  gerakan-gerakan tersebut harus selaras dengan iringan alunan musik. Di propinsi jawa tengah ini sangat banyak sekali tari-tarian yang sudah membudaya. Diantaranya adalah : tari srimpi, bedaya, gambyong wireng, langendriyan, yang khusus diadakan di mangku negaraan dan lain sebagainya.

Pada mulanya seni tari tidak terlalu terkenal dan dianggap biasa oleh sebagian masyarakat. Seni tari muai dikenal dan mengalami pucak kejayaan, dimulai pada jaman kerajaan Majapahit hususnya pada masa Raja Hayam Wuruk, kerajaan Singosari dan kerajaan Kediri.  Dahulu, pusat seni tari di jawa Tengah berada di keraton Surakarta dan Mangkunegaraan. Yang kemudian meluas keseluruh penjuru di jawa tengah. Macam –acam tari di Jwa tengah antara lain : tari bedhaya, tari serimpi, tari phethilan, tari topeng, tari dolalak, tari patholan, tari sintren, tari kuntulan dan lain sebagainya

 

 

 

 

a. Tari Bedhaya

Tari ini termasuk dalam seni tari klasik, dan sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Pada awalnya, tari ni terdri dari 7 (tujuh) orang penari. Tetapi atas gagasan dari Sunan Kalijaga 7 (tujuh) prnari tersebut ditambah menjadi 9 (sembilan) penari. Yang kemudian oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Tari Bedhaya Ketawang.

b. Tari Serimpi

Tari ini sudah ada sejak masa Prabu Amiluhur. Terian ini ditrikan oleh 4 (empat) orang putri yang melambangkan air, api, tanah dan angin atau udara. Juga bisa melambangkan empat penjuru mata angin.

c. Tari Phetilan

Taria ini hampit sama dengan tari wireng, hanya saja tarian ini mngambil adegan cerita pewayangan. Jadi seperti tarian cerita atau sandiwara.

d. Tari Golek

Tarian ini berasal dari Yogyakarta, tetapi pertamakali dipentaskan di Surakarta. Tarian ini menceritakan  tata cara berhias gadis yang menginjak usia aqil baligh.

e. Tari Topeng

Tarian ini dilakukan oleh penari yang memakai topeng. Tarian ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit, dan mengalami puncak kejayaan pada mesa itu juga. Tarian ini semaki terkenal ketika ajaan islam masuk. Yaitu Sunan Kali Jaga yang menggunakan terian ini sebagai sarana penyebaran agama islam.

f. Tari Dolalak

Tarian ini berasal dari purworejo. Terian ini mempunyai keunikan pada baju seragam yang dikenakan oleh para penarinya, yaitu dengan memakai seragam tentara belanda atau prancis dan diiringi dengan alat musik tertentu.

g. Tari Phatolan

Tarian ini berasal dari Rembang. Sebenarnya jika kita cermati, tari phatolan  bukan tarian. Tetapi sebuah pertunjukan hiburan. Yaitu pertunjukan gulat, yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk hiburan. Pertunjukan ini biasanya dilakukan di daerah yang berpasir dan dilakukan pada waktu sore hari, saat bulan purnama atau pada waktu senggang

h. Tari Kuntulan dan Sintren

Tarian ini berasal dari pekalongan dan daeran sekitarnya. Kuntulan adalah sejenis tarian bela diri yang diiringi oleh misik, sedangkan sitren adalah tarian yang mengandung aliran magis. Karena si penari menari dengan tidak sadar. Sebelum tarian ini dimulai, penari dimasukkan ke dalam ruang tertutup dari bambu beserta alat bersolek. Tarian ini biasanya di lakukan pada malam hari, hususnya pada saat bulan purnama.

2. Seni Arsitektur atau Bangunan

Bangunan adalah salah satu kebutuhan yang harus tercukupi bagi sebuah keluarga. Sejak masuknya islam ke jawa, budaya Hindu-Budaha masih sangat kuat sekali. Sehingga para pensiar agama islam mengalami masalah dalan dakwahnya kepada masyarakat jawa. Begitu juga hindu-budha, dalam mensiarkan ajarannya mengalami masalah yang sama. Karena pada masa itu masyarakat jawa masih menganut kpercayaan animisme dan dinamisme. Dan kesemuanya itu mengakibatkan pencampuran budaya baik hindu-budha (sebelum islm) dan saat islam.

a. Tata bangunan dan arsitektur jawa

Suku jawa memang sangat terbuka, itu terukti dengan adanya pencampuran kesenian-kesenian yang ada, tetapi yang mencirihaskan jawa asli juga masih ada, yaitu rumah joglo dengan penyagga-penyangganya dan atap rumah yang bertingkat, yang setelah islam masuk, mempunyai nilai makna filosofis tertentu. Sekarang kita cermati bangunan-bangunan lama yang ada di daerah-daerah tertentu di jawa tengan. Bangunan tersebut memiliki arsitektur gabungan atau singgungan antara hindu-budha, cina atau islam. Seperti  pintu, bangunan gapura rumah, pagar rumah  dan lain sebagainya.

Dan dapat kita jumpai juga pada tata ruang jawa, yang menggabungkan antara keraton atau pendpo, pasar, penjara dan tempat ibadah yang kita sebut dengan alun-alun. Yang sebelumnya dilakukan pada masa kerajaan hindu. Dan kesemuanya itu, berkonsepkan raja atau pemerintah, rakyat, dan duna dan akhirat. Setelah islam ada dan masuk, islam memasukan unsur-unsur islam yamg ada tanpa meninggalkan unsur-unsur sebelumnya. Sehingga masyarakat jawa bisa menerima kehadiran islam.

b. Arsitektur Masjid

Candi adalah tempat ibadah orang yang beragama hindu-budha, yang mempunyai tata bangunan dan arsitektur yang sangat baik dan mengagumkan. Bangunan yang berbahan dari batu kali atau batu bata merah yang di susun berundak-undak atau langsung menjulang tinggi ke atas. Sedangkan tempat ibadah orsng islam adalah masjid yang bercirikan dengan kubah di atasnya dan mimbar yang terletak di dalamnya. Sedikit contoh saja, Masjid al-harom, masjid an-nabawi, masjid al-aqsho adalah masjid yang paling melambangkan islam.

Dengan berjalannya waktu, sudah banyak masyarakat jawa yang masuk islam. Dengan demikian, mau tidak mau harus membangun tempat ibadah untuk mendekatkan hamba kepada yang Kuasa. Tetapi pada saat itu masyarakat jawa masih sangat kental dengan hindu-budhanya. Sehingga bangunan masjid dibuat agar masih ada ciri hindu-budhanya. Seperti yang di lakukan oleh Sunan Kudus yang membuat masjid kudus. Yaitu terletak pada bangunan menara yang menyerupai meru (sejenis menara), dan pintu kembar, gapura dan pagar yang bercirihas hindu-budha.

Selanjutnya seiring bergantinya jaman, bangunan masjid berkembang dan bercirikan islam asli. Yaiu dengan adanya qubah diatas bangunan dan mimbar yang terletak di dalam masjid, bahkan ditambah dengan tilisan-tulisan bercirikan islam (kaligrafi arab) dan penyangga dengan bentuk menyerupai tapal kuda ataupun biasa.

3. Wayang

Wayang merupakan kesenian asli jawa, yang menggabungkan antara seni suara, seni lukis, seni pahat, seni musik, seni sastra dan lainsebagainya. Kata wayang berasal dari kata wewayangan yang berarti bayangan. Dikatakan begitu, karena antara penonton dan dalang (yang memainkan wayang) dibatasi oleh kain putih yang disorot oleh lampu listrik. Jadi penonton dapat menyaksikan pertunjukan wayang dari balik kaintersebut, sehingga hanya tampak bayangan dalang yang sedang memainkan dan wayang yang dimainkan.

Ada 2 (dua) pendapat tentang asal muasal kesenian wayang. Yaitu ada yang berpendapat wayang itu berasal dari indonesia atau jawa asli yang lebih tepatntya di jawa timur dan ada yang berpendapat wayang itu berasl dari hindia. Ke 2 (dua) pendapat tersebut sama-sama mempunyai dasar landasan yang kuat. Pendapat pertama, yang mengatakan wayang berasal dari jawa mempunyai alasan : wayang sangat erat kaitannya dengan sosial, religi dan budaya jawa. Hal tersebut dilihat dari contoh tokoh-tokohnya yaitu; tokoh punakawan, petruk, gareng, bagong, semar, dan yang lainnya. Serta bahasa yang menggunakan bahsa jawa kuno bukan bahasa yang lain. Pendapat yang selanjutnya, yang mengatakan wayang berasal dari hindia berpandapat bahwa : seni wayang ada dan bebarengan dengan masuknya agama hindu ke jawa dan mengatakan kisah-kisah wayang juga berasal dari hindia yaitu kisah pandawa kurawa, kisah mahabharata, ramayana dan yang lainnya. Tetapi dengan berjalannya waktu, seakan-akan budaya wayang sudah milik indonesia khususnya jawa.

Setelah masuknya islam ke jawa, kesenian wayang mengalami perubahan. Hususnya pada filosofis dan bentuknya. Yaitu para Walisongo yang merubahnya, tetapi tidak merubah nilai keseniannya. Para Walisongo, menggunakan wayang untuk media dakwah dalam penyebaran agama islam terutama Sunan Kalijaga. Beliau menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah mensiarkan agama Islam karena pada masa itu masyarakat jawa senang menyukai pertunjukan wayang. Tetapi sebelumnya para Walisongo mengalami perselisihan pendapat tentang media dakwah wayang ini, dikarenakan bentuk wayang yang mirip dengan orang asli. Dan islam tidak membolahkan hal semacam itu. Tetapi dengan sedikit modifikasi yang dilakukan, maka media dakwah dengan wayangpun bisa disepakati dan dilaksanakan.

Wayang, mempunyai klasifikasi atau jenis berdasarkan bahan dasar dan pementasannya. Yaitu: wayang kulit, wayang suket dan wayang gung. Pertama yaitu wayang kulit. yaitu wayang yang berbahan dsar dari kulit binatang ternak, seperti kulit sapi, kerbau dan kambing. Pementasan wayang ini membutuhkan seorang dalang yang bertugas untuk memainkan wayang dan mengisi suara wayang tersebut. Selanjutnya yaitu wayang suket. Wayang ini berbahan dasar dari suket (rumput) yang dibbuat menyerupai tokoh pewayangan. Wayang ini biasanya digunakan untuk menghibur atau mainan anak-anak. Wayang ini tidak bertahan lama, kerena bahannya yang terbuat dari suket (rumput). Yang terahir yaitu wayang gung. Sebenarnya wayang ini adalah wayang orang, bukan terbuat dari bahan benda mati seperti jenis wayang yang lainnya. Mungkin bisa dikatakan tari-tarian. Wayang ini berasal dari daerah banjar, kalimantan selatan.

4. Musik Gamelan Jawa

Jika kita dengar karawitan, maka tadak asing lagi dengan Gamelan. Istilah karawitan, bisa diartikan rumit, kecil, terbelit-belit. Tetapi, karawitan juga bisa diartikan cantik, indah, berliku-liku, luwes. Gamelan adalah salah satu dari kebudayaan masyarakat Jawa yang berupa kesenian musik. Yang sudah ada sejak jaman kerajaan hindu-budha di indonesia. Yaitu sekitar abad 7 – 10 dan bukti adanya ada pada relief candi-candi dan kitab-kitab kasustraan jawa. Musik Gamelan, merupakan kesenian asli dari jawa dan tidak ada campuran dari bangsa atau kesenian budaya yang lain seperti cina, arab maupun india.

Musik Gamelan mempunyai arti yang sangat luas, khususnya bagi masyarakat Jawa. Yaitu mempunyai nilai sosial, budaya, filosofis dan sejarah yang kesemuanya itu sangat berarti bagi masyarakat jawa khususnya. Gamelan juga patut kita banggakan karena selain merupakan kesenian asli jawa, juga mampu maju dan menunjukan kedunia bahwa Gamelan bisa mengimbangi alat musik luar.

Selain wayang, musik gamelan juga oleh para Walisongo, dijadikan sebagai salah satu media pansiaran agama islam. Buktinya adalah Sunan Kalijaga yang mewariskan alat gamelan yaitu Gong Kyai Sekati, dan warisan Gong Kyai Sekar Delima yang dibuat oleh Brawijaya V.

 

IV. KESIMPULAN

Setelah kita singgung sedikit mengenai kesenian-kesenian dan budaya yang ada di indonesia, jawa khususnya. kita bisa ambil kesimpulan bahwa :

1.   Masyarakat jawa mempunyai kebudayaan yang asli (tidak ada campuran dari budaya lain) seperti wayang, gamelan, seni sastra dan batik.

2.   Masyarakat jawa merupakan masyarakat yang dapat menerima dan toleran kepada budaya-budaya asing yang masuk kedalam budayanya sendiri.

3.   Masyarakat jawa mempunyai budaya campuran, tetapi budaya tersebut tidak mengeliminasi budaya asli jawa. Melainkan budaya baru yang merupakan perpaduan budaya jawa dan budaya asing tersebut

4.   Setelah islam masuk budaya jawa mengalami perubahan terutama dari segi makna dan filosofisnya. Dengan memasukan filosofis islam kedalam budaya tersebut.

V. PENUTUP

Mungkin itu saja penjelasan yang dapat penulis sampaikan. Mungkin masih banyak ketidak jelasan, kurang dimengerti dan lain sebagainya. Pemakalah sangat mengerti, dalam penyusunan makalah ini masih sangat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis dengan segala kekurangannya, meminta kritik dan saran yang membangun demi kebaikan kita semua. Karena kelebihan hanya milik tuhan yang Maha Tahu dan kekurangan hanya milik kita semua. Semoga dari paparan singkat diatas, bisa kita ambil hikmah dan manfaat. Dari penulis mohon ma’af atas segala kekurangannya. Sekian, harap maklum dan terima kasih.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  • Mustopo, Habib M, 1989, Ilmu Budaya Dasar, Surabaya, Usaha Nasional.
  • http:// anjateng
  • http:// om ipit is muslim
  • http:// indungsia.com
  • http:// kompas forum / kompas.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads
Tinggalkan komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: